;
Tampilkan postingan dengan label inspired word. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspired word. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Mei 2009

terbuangnya manusia dari taman firdaus

Seluruh kehidupan di atas planet yang semakin tak nyaman ini diatur oleh sistem ekonomi global yang mendasari dirinya pada uang, profit dan pertukaran--kapitalisme. Secara virtual, segala sesuatu memiliki harga--makanan, minuman, tanah, rumah, tumbuhan, binatang, kerja manusia. Mereka yang tak mampu membayar tak akan diperbolehkan mendapatkannya, bahkan apabila konsekuensi dari ketidakmampuan tersebut adalah kematian.

Bagi mayoritas manusia konsekuensinya adalah bahwa hidup menjadi didominasi oleh kerja, sekolah yang menghabiskan setengah usia seseorang, pabrik, kantor, pasar dan penjara. Bagi banyak orang ini berakibat pada kemiskinan, perang dan berbagai bentuk penindasan lainnya. Tetapi toh manusia bukan satu-satunya yang terjebak dalam jejaring mengerikan ini. Segala jenis spesies menjadi subyek pengaplikasian industri yang berujung pada kesengsaraan dan kematian alam liar, bahkan juga, kepunahan.


Telah jelas bahwa apa yang dialami oleh manusia, dialami juga oleh spesies lain yang hidup di atas bumi, semua juga terjadi atas sumber yang sama, sistem produksi dan pertukaran yang juga sama. Dalam tulisan berikut ini, akan berusaha dipaparkan bahwa sistem yang mengeksploitasi manusia saat ini adalah sistem yang sama yang lahir dari penghancuran atas spesies lainnya, atas ekologi secara keseluruhan. Dengan demikian, diharapkan gerakan yang berupaya mengabolisi kapitalisme akan menyadari sepenuhnya bahwa itu adalah berarti juga mengubah relasi tak hanya antarmanusianya saja, tetapi juga antara manusia dengan alamnya.

Komunal Primitif

Saat kita berbicara mengenai relasi manusia dengan alam, adalah penting untuk tidak kehilangan pandangan atas fakta bahwa manusia adalah juga termasuk ke dalam genus mamalia. Sebagaimana kita bisa telusuri pada perjalanan hidup manusia. Hominid muncul sekitar 25 juta tahun lalu, darinya berevolusi berbagai spesies, termasuk kera, dan sekitar 250.000 tahun lalu, barulah muncul Homo Sapiens. Gigi geligi dan berbagai bentuk fisikal lainnya, memperlihatkan bahwa Hominid pada utamanya adalah vegetarian. Manusia tidak memiliki gigi yang tajam, cakar yang kuat atau sistem pencernaan yang umum seperti karnivora. Walaupun di era tersebut beberapa Hominid menjarah daging hasil buruan binatang lain, tetapi pola makan pada dasarnya terpaut pada tumbuhan--tetapi bukan dengan cara bercocok tanam secara khusus.

Perburuan binatang yang lebih besar untuk dimakan, hadir sejalan dengan semakin pentingnya daging untuk masuk ke dalam pola makan, yang menjadi signifikan saat manusia berhadapan dengan kondisi yang lebih dingin di mana tumbuhan semakin sulit ditemui, khususnya di era terakhir dari empat bagian besar Zaman Es. Perburuan besar yang dilakukan pada era tersebut, walaupun mulai menampakkan adanya divisi kerja, di mana perempuan masih turut berburu walaupun tidak dominan karena kebanyakan mengurus anak dan mengolah makanan, toh hal tersebut tidak terlalu kentara.

Tetapi bagaimanapun juga berburu memperlihatkan jejak awal transformasi aktivitas manusia yang bebas ke dalam sesuatu yang mirip kerja. Hal ini terjadi khususnya karena berburu membutuhkan usaha berlebih: “Pada sekitar 240 kalori di mana tumbuhan dapat dikumpulkan dalam waktu satu jam, sementara anggap saja kegagalan berburu yang tinggi. Diperkirakan satu jam berburu memroduksi hanya 100 kalori makanan” (Ehrenberg). Lebih pentingnya lagi, aktivitas memetik dan mengumpulkan makanan dari tumbuhan dapat dilakukan oleh seisi komuniti yang sepenuhnya terintegrasi dengan aktivitas sosial lain seperti bernyanyi, bercakap-cakap dan mengurus anak. Berburu di sisi lain, sangat bergantung pada pelacakan dan fokus tinggi, tenang dan cenderung menjadi tugas yang hanya dapat dilakukan oleh orang-orang tertentu saja.

Walaupun corak produksi berburu telah mulai mapan kehadirannya, tidak secara langsung manusia awal itu hanya memakan daging saja. Imaji popular bahwa para primitif yang haus darah dan makan daging setelah membunuh buruannya dengan kejam jelas adalah omong kosong. Dugaan bahwa manusia adalah sepenuhnya pemburu di mana “makanan utamanya adalah daging dan pekerjaan utamanya adalah berburu” telah banyak dikritisi sebagai “sebuah refleksi di mana kebanyakan kepentingan serta prakonsepsi-prakonsepsi dari para antropolog lelaki Barat abad ke-19 dan status berburu sebagai pengisi waktu luang kelas atas di Eropa abad ke-19.” (Ehrenberg).

Bahkan juga menurut Margaret Ehrenberg, apa yang disebut sebagai masyarakat pemburu-peramu (hunter-gatherer) seharusnya lebih tepat disebut masyarakat pemetik sebagaimana pengumpulan makanan dari tumbuhan berupa dedaunan, umbi dan buah-buahan di banyak kasus jauh lebih fundamental dibanding dengan berburu.

Tetapi bagaimanapun juga, mayoritas rentang waktu di mana manusia eksis, manusia hidup dalam kelompok-kelompok yang terpisah dan relatif otonom, dalam keluarga-keluarga (dalam makna luas: keluarga sesuai garis keturunan), dalam suku-suku. Gaya hidup mereka secara esensial komunistik. Tak ada jual beli, tak ada kerja upahan, tak ada negara dan tak ada properti privat: “barang-barang tidak diproduksi untuk dikonsumsi setelah dipertukarkan atau setelah ditempatkan di pasar... Komunit mendistribusikan apa yang diproduksinya sesuai dengan aturan-aturan sederhana, dan setiap orang secara langsung mendapatkan apa yang diberikan. Berbagai aktivitas diputuskan (sesungguhnya diterapkan pada kelompok sesuai kebutuhan) dan dilakukan bersama-sama, dan hasilnya juga dibagikan bersama-sama.” (Gilles DauvĂ© & François Martin).

Dalam masyarakat demikian, relasi antara manusia dan alam secara keseluruhan sepenuhnya berbeda dengan masyarakat modern. Fakta paling signifikan adalah bahwa dalam masyarakat komunal primitif, binatang tidak menjadi milik siapapun. Tak ada properti privat atas tanah, tumbuhan ataupun binatang dan tak ada domestikasi. Walaupun beberapa binatang diburu, binatang-binatang tetap hidup bebas dan liar. Manusia hanya mengambil apa yang mereka butuhkan dari alam, binatang hanya diburu sesuai kebutuhan pangan atau sandang komuniti yang jelas terbatas. Tak ada gunanya bagi mereka untuk membantai binatang secara massal, sehubungan komuniti juga tak merasa perlu untuk memiliki atau menyimpan surplus, tak ada pasar untuk menjual surplus. Komuniti-komuniti secara tipikal hidup dalam sebuah relasi yang harmonis dengan lingkungan mereka; alam adalah rumah dan penyedia hidup bagi mereka, sehingga tak ada keinginan bagi mereka untuk menghancurkannya dan memunahkan spesies lain.

Binatang tidak dilihat sebagai komoditi, melainkan sebagai sebuah campuran dari kekaguman, keajaiban yang patut direspek dan ditakuti. Bukannya dianggap sebagai spesies yang lebih rendah dari manusia, binatang dilihat sebagai makhluk hidup yang berbagi alam dengan manusia. Tak jarang komuniti-komuniti mengadopsi binatang tertentu sebagai simbol mereka, dalam kasus lain binatang juga sering dianggap sebagai pelindung suku yang harus dihormati.

Domestikasi dan Dominasi

Relasi manusia dengan alam dan antardiri mereka sendiri, secara radikal tertransformasikan bersamaan dengan pengembangan agrikultur. Agrikultur menginstitusikan sebuah relasi baru dengan dunia alamiah: “tanah itu sendiri menjadi sebuah instrumen produksi dan spesies planet menjadi obyek-obyeknya.” (John Zerzan). Domestikasi, yang ditandai dengan pembudidayaan tumbuhan dan pengurungan binatang di tempat-tempat tertentu, adalah titik kunci awal penggantian yang berangsur-angsur dari gaya hidup nomadik dengan sistem yang melahirkan negara, kelas, kota, kerja dan properti privat. Dalam konteks ini, Zerzan berargumen, “ saat mendomestikasikan binatang dan tanaman, manusia pada intinya mendomestikasikan dirinya sendiri.”

Tetapi walaupun begini, sebaiknya kita tidak lantas menuduh bahwa agrikultur-lah dosa utama manusia, yang menyebabkan ketidakberuntungan hidup manusia di atas bumi dan ditendangnya kita dari taman firdaus primitif-anarkistik. Perkembangan negara dan kelas adalah sebuah proses yang kontradiktif, kompleks sepanjang sisa waktu perjalanan hidup manusia di atas bumi, sehingga tak bisa sekedar semua itu dipersalahkan pada agrikultur semata. Saat pendomestikasian tumbuhan dan binatang (dan pada akhirnya juga manusia) memainkan peran penting dalam keseluruhan kisah hidup kita, itu semua bukan kisah keseluruhan.

Beberapa arkeolog mengatakan bahwa kelahiran elit-elit sosial adalah asal muasal lahirnya agrikultur, dan bukan sebaliknya. Menurut Ian Hodder (1990), “ada kemungkinan bahwa domestikasi dalam makna sosial dan simbolis terjadi lebih dahulu pada pendomestikasian dalam makna ekonomis.” Di mana aktivitas memetik menawarkan akses langsung pada makanan (saat memang tersedia), terdapat sebuah “jeda untuk kembali pada investasi kerja agrikultural”: tanaman pangan harus ditumbuhkan, binatang diberi makan dan ditumbuhkan sebelum makanan kembali tersedia. Dengan demikian, “pengadopsian teknik-teknik produksi yang lebih intensif, mengarah pada agrikultur, melayani berbagai kepentingan kelompok-kelompok dominan dalam masyarakat di mana rezim ekonomi baru yang menjerat orang-orang dalam struktur sosial dan ekonomi di mana mereka menjadi tergantung padanya.” Dalam pengertian inilah maka “domestikasi binatang liar untuk diternakkan adalah sebuah metafora dan mekanisme kontrol masyarakat.”

Beberapa bentuk agrikultur eksis selama ribuan tahun tanpa secara khusus menimbulkan perubahan sosial yang radikal. Transisi dari memetik ke bertani diyakini dimulai di daerah yang disebut daerah Bulan Sabit yang Subur (kini menjadi negara Irak, Iran, Turki, Syria, Israel dan Jordania) di sekitaran 10.000 SM dan benar-benar mapan di sekitaran 6000 SM. Bagaimanapun juga, hanya sejumlah kecil binatang yang dikandangi, sedangkan sebagian besar daging masih didapatkan dari hasil berburu. Fokus utama pertanian terletak pada bagaimana menumbuhkan tanaman pangan dengan menggunakan teknologi sederhana, bukan dengan membajak tanah; para arkeolog kadang menyebutkan bahwa kala tersebut digunakan teknik hortikultura.

Perubahan yang besar baru hadir di era akhir Neolitikum (sekitar 3000 SM) dengan dikembangkannya agrikultur secara lebih intensif. Binatang mulai digunakan untuk diambil susunya dan produk wool selain dagingnya, serta mulai digunakan untuk menarik bajak dan kereta. Untuk pertama kalinya, manusia mulai mengurung sejumlah besar binatang dalam sebuah peternakan. Secara sistematis, binatang-binatang itu dipisahkan dari kehidupan liarnya dan dikembangbiakkan dengan selektif, sehingga binatang-binatang domestik pertama itu secara berangsur-angsur menjadi berbeda secara fisik dari saudara-saudara mereka yang hidup di alam bebas.

Dampak sosial dari hal ini sangat menakjubkan. Dari praktek “binatang sebagai properti”, Camatte berargumen, “lahir pulalah properti privat dan nilai tukar” serta “kelahiran awal patriarki.” Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan dalam masyarakat secara dramatis meningkat pesat dengan sejumlah besar bidang kerja: pembukaan hutan untuk lahan pertanian, memberi makan dan mengurus binatang ternak, memerah susu, memroses produk-produk yang dihasilkan dari susu, mengambil dan memintal wool, dan seterusnya hingga “bertani dan memroduksi makanan... berubah dari sebuah tugas yang sederhana di mana seorang perempuan, atau sekelompok perempuan, dapat melakukannya dengan peralatan sederhana, menjadi sebuah operasi yang kompleks di mana dibutuhkan sebagai pekerjaan penuh waktu bagi seluruh populasi.” (Ehrenberg)

Relasi gender mulai tertransformasikan. Permintaan akan tenaga kerja membutuhkan perempuan untuk memiliki lebih banyak lagi anak (dalam masyarakat pemetik, kelahiran anak cenderung memiliki jeda cukup panjang, antara tiga atau empat tahun). Intensifikasi kerja perempuan dalam mereproduksi tenaga kerja membuat mereka disisihkan dari tugas-tugas lain. Sebagaimana kebutuhan berburu semakin menurun, lelaki semakin banyak yang bekerja di lahan pertanian yang sebelumnya menjadi bagian para perempuan. Posisi sosial perempuan juga semakin menyusut hingga “mereka tak lagi banyak berkontribusi bagi produksi makanan harian, yang sebelumnya menjadi faktor krusial dalam memapankan kesetaraan status yang sebelumnya mereka miliki.” (Ehrenberg)

Ada sebuah pendapat yang berkata bahwa, “manajemen ternak atas binatang-binatang domestiklah yang menimbulkan sebuah konsepsi hidup politik yang intervensionis dan manipulatif. Domestikasi dengan demikian menjadi sebuah pola arketipikal bagi berbagai jenis subordinasi sosial lainnya. Model yang hadir adalah keberadaan seorang penggembala yang menjadi seorang pemimpin, seperti pendeta di tengah staf kependetaannya. Binatang-binatang yang loyal, patuh, menuruti kehendak tuannya adalah contoh bagi struktur majikan dan pekerja.” (Keith Thomas)

Binatang sebagai Kemakmuran

Setelah pendomestikasian, binatang-binatang, atau setidaknya beberapa spesies, tak lagi hidup liar dan bebas. Mereka kini menjadi milik dari seseorang; Adam Smith mencatat bahwa bersamaan dengan tanaman pangan, sejumlah binatang adalah menjadi bentuk paling awal dari properti privat. Properti ini tidak hanya digunakan untuk memroduksi makanan dan pakaian; tapi juga sebagai sebuah bentuk kemakmuran. Dari tahap awal domestikasi “konsumsi daging adalah unjuk penampakan akan kekuasaan penguasa dominan. Semakin banyak ternak yang disembelih, dimasak dan dimakan, semakin besar seseorang tersebut.” (Colin Spencer)

Binatang-binatang domestik adalah sebuah bentuk fundamental dari kemakmuran “yang dapat diakumulasi dan diberikan dari satu generasi ke generasi berikutnya... sebagaimana satu keluarga mengakumulasi lebih banyak lagi binatang ternak atau memiliki alat bajak yang lebih baik, jenjang antara kemakmuran mereka dan tetangga-tetangga mereka akan semakin meningkat secara progresif... perbedaan antara kaya dan miskin, yang tidak tampak di tengah masyarakat pemetik, kini mulai berkembang.” (Ehrenberg)

Sebagaimana binatang dikembangkan sebagai penentu kemakmuran, binatang yang tidak dibutuhkan secara langsung untuk dikonsumsi dapat dipertukarkan dengan pemilik properti lain dan bahkan juga bisa digunakan sebagai alat tukar. Di tahap awal munculnya pasar ini, sebagaimana yang diteliti oleh Marx dalam Kapital, “bentuk uang dilekatkan pada obyek kemakmuran, sebagai contohnya binatang ternak.” Dengannya, binatang menjadi properti bagi kelompok atau individu-individu, tidak hanya dapat diperjualbelikan tapi juga dapat dicuri dan diperebutkan. Saat pengembangan perburuan membutuhkan organisasi sebagian masyarakat sebagai mesin pembunuh, transformasi dari para pemburu menjadi sebuah mesin perang yang secara sistematis membunuh manusia lain juga mulai hadir “saat untuk pertama kalinya manusia memiliki sebuah sumber daya yang sangat berharga sekaligus cukup mudah untuk dicuri.” (Ehrenberg)

Perbudakan

Banyak dari mereka yang bekerja di awal peradaban adalah budak. Saat binatang mulai diperlakukan sebagai sekedar obyek yang dapat digunakan demi kepentingan manusia, bukan lagi sesuatu yang hidup berdampingan di alam, pengenalan perbudakan juga menjelaskan bagaimana beberapa kelompok manusia tertentu memiliki status yang sama dengan binatang: sebagai obyek. Sebagaimana yang dicatat oleh Marx (1867), “di bawah perbudakan, pekerja tak dapat dibedakan sekedar sebagai instrumentum vocale (alat yang bisa berbicara) dari binatang, yang mana berarti juga instrumentum semi-vocale (alat yang semi-bisu) dan dari alat tak hidup, yang berarti juga instrumentum mutum (alat bisu).”

Dalam periode modern, ideologi rasis mendefinisikan manusia berkulit hitam dan berwarna lebih sebagai binatang ketimbang sebagai manusia, semakin gelap warna kulit seseorang, semakin ia sederajat dengan binatang, itu jugalah yang melegitimasi perbudakan. Budak diperlakukan seperti binatang ternak, harus mampu bertahan di bawah kondisi-kondisi mengerikan saat ditransportasikan, diambil anak-anaknya dan dipisahkan dari keluarganya, dicap dengan besi panas, mengenakan rantai besi dan bahkan juga untuk eksperimentasi medis. Budak dijual di pasar, diuji ketahanan fisiknya dan kekuatannya, serta lainnya. Budak yang tak patuh akan dikirim ke tempat penjinakkan sebagaimana kuda liar dijinakkan. Mirip dengan “domestikasi binatang yang membutuhkan teknik-teknik untuk berurusan dengan para pembangkang: kekang bagi perempuan yang membantah; kurungan, rantai bagi orang gila.” (Thomas). Kita dapat menambahkan penjara dalam daftar ini sebagaimana yang telah dipaparkan oleh Michel Foucault.

Akumulasi primitif

Industri binatang, khususnya ternak, telah menjadi titik pusat pengembangan relasi sosial kapitalis ke seluruh dunia, dari pusat-pusat awalnya di Eropa Barat hingga ke negeri-negeri lain. Marx mengajukan argumen bahwa demi pengembangan kapitalisme, harus dilakukan sebuah proses pelucutan properti secara brutal, yaitu apa yang ia sebut sebagai “akumulasi primitif... proses historis dari penceraian produsen dengan alat produksinya.” Kapitalisme membutuhkan seluruh alat produksi (termasuk tanah) untuk menjadi kapital, dan mayoritas populasi direduksi menjadi proletarian--orang yang hanya dapat bertahan hidup dengan cara menjual tenaga kerjanya untuk dipertukarkan dengan upah.

Dalam masyarakat pra-kapitalis, walaupun tidak sepenuhnya terjadi di seluruh dunia, banyak para petani yang memiliki tanah, bekerja di atas tanahnya dan tak perlu mengumpulkan uang untuk membeli makanan. Termasuk di beberapa daerah feodal seperti di Indonesia pra-kapitalis, mereka yang bekerja di atas tanah milik seseorang, biasanya mendapatkan jatah hasil panen dalam jumlah tertentu yang setidaknya tidak akan membuat keluarga mereka kelaparan--kondisi ini telah berubah sehingga para petani tak bertanah tak lagi mendapat jatah panen, melainkan tenaga kerja mereka dibayar dengan uang untuk membeli makanan. Untuk terjadinya perubahan ini, para petani yang bertanah harus dipaksa untuk melepaskan kepemilikan atas tanahnya melalui “penaklukan, perbudakan, perampokan dan pembunuhan”--“sejarah ini, sejarah penjarahan mereka, ditulis dari tahun ke tahun dalam darah dan api kemanusiaan.” (Marx)

Kolonisasi berdarah atas daratan Amerika juga menampilkan penggantian masyarakat adat dengan binatang-binatang komoditi, dimulai dengan Kolumbus yang pertama kali membawa binatang ternak dan kuda ke “Dunia Baru” di tahun 1494. Mitos Hollywood tentang perjuangan antara koboi (cow-boy, ‘cow’ artinya sapi; dan cowboy adalah istilah bagi para peternak) dengan indian memang tidak akurat secara historis, tetapi setidaknya mitos tersebut mengekspresikan sebuah kebenaran dasar yang terjadi. Dinamika pelucutan kepemilikan dan pemusnahan masyarakat adat seringkali demi upaya untuk menggantinya dengan peternakan. Ironisnya, beberapa korban pertama dari pelucutan tersebut justru juga menolong penyempurnaan proses ini. Misalnya di Patagonia di mana indian Araucanian dikepung dan dibantai di tahun 1870, beberapa yang selamat justru juga mulai beternak. Mereka “terasing di daerah mereka sendiri, dipisahkan secara kejam dari komunitasnya dan dipaksa mengelana di lautan, mereka mendarat di Falkland, yang mana mereka kemudian menjadi bagian aktif dalam pelucutan brutal di sana, di sisi lain dunia.” (Hank Wangford)

Pembukaan lahan peternakan memang bukan satu-satunya aspek industri binatang terpenting bagi kolonisasi. Di Amerika Utara khususnya, perdagangan bulu binatang adalah hal penting. Merunut pada Fredy Perlman, di akhir abad ke-18, “Bulu adalah minyaknya Eropa. Kekaisaran Perancis di Amerika hadir di sekitaran perdagangan bulu binatang, sementara kekaisaran Russia di Siberia adalah juga kekaisaran para penjerat bulu binatang.”

Di Indonesia, proses akumulasi primitif ini banyak dilakukan dalam kampanye transmigrasi di era Suharto, di mana di beberapa daerah seperti Kalimantan, hutan-hutan yang sebelumnya menjadi lahan hidup para masyarakat adat dibuka untuk dijadikan kawasan pertanian bagi para transmigran. Binatang-binatang yang sebelumnya menjadi penunjang hidup masyarakat adat dan dihormati, juga mulai dijadikan obyek komoditi. Sementara masyarakat adat sendiri semakin didorong untuk tinggal ke daerah-daerah hutan pedalaman yang tinggal menunggu waktu untuk dipunahkan apabila tidak diasimilasikan ke dalam kehidupan modern. Sementara di Papua Barat, proses modernisasi memaksa para anggota masyarakat adat yang kehidupan awalnya adalah sebagai pemburu-peramu (sebagiannya malah masih masyarakat pemetik) ditransformasikan ke dalam kerja-kerja pabrikan di tambang-tambang pengolahan mineral setelah ruang hidup mereka dipersempit, hidup mereka yang dekat dengan alam dilucuti dan sungai-sungai yang menjadi sumber hidup mereka dicemari.

Akumulasi primitif tidak hanya terjadi sebagai sebuah insentif dari hasil menyingkirkan manusia dari keterikatannya atas alam dan tanah, ini juga terjadi dengan mengakumulasi profit dari eksploitasi binatang dan pengenalan pola agrikultur modern. Dalam pemahaman ini, pelucutan manusia dari alam dan penransformasian manusia kepada pola pikir penguasa alam semesta adalah juga motor penggerak akumulasi primitif, yang mana tanpanya kelas penguasa tak akan dapat menciptakan proletariat, tak akan mendapatkan akses pada kemakmuran mineral, dan mempertahankan posisinya.

Peternakan dan Asal Mula Sistem Pabrik

Kapitalisme berusaha untuk menyedot hingga ke titik akhir kehidupan manusia, mengintensifkan proses kerja untuk mengeliminasi seluruh gerak yang tak produktif. Ia berusaha untuk menyapu bersih setiap gerakan tangan yang tak dapat dikontrol, setiap gerakan mata yang tak produktif, setiap penjelajahan pikiran yang tak diinginkan. Mirip dengan yang terjadi pada binatang, tujuannya adalah mengeliminasi apapun yang tak ada kontribusinya bagi produk akhir, sehingga mengubah mereka ke dalam mesin yang mengonversi daging sebagai komoditi.

Sebagaimana binatang di peternakan, di bawah sistem pabrik, manusia dibatasi gerak tubuhnya untuk memaksimalkan profit. Pabrik peternakan telah dikembangkan di era kekaisaran Romawi; Plutarch menulis bahwa “adalah sebuah praktik umum untuk menjahit mata bangau dan angsa hingga tertutup dan mengurung mereka di tempat gelap, agar mereka menjadi lebih gemuk.” Di Inggris abad ke-17, babi dan domba digemukkan dengan cara dikurung di tempat gelap. “Angsa diyakini akan bertambah gemuk apabila kaki mereka dipakukan ke lantai.” (Thomas). Gerakan binatang dibatasi karena dapat membakar kalori yang menyebabkan penggemukan menjadi terhambat.

Teknik-teknik dasar yang sama masih digunakan dalam pabrik peternakan modern, dengan penambahan metoda baru pengekangan seperti kandang individual bagi beberapa binatang tertentu seperti babi. Dirunut lebih lanjut, tampak bahwa pengembangan pabrik bagi manusia dalam periode modern dipengaruhi oleh sejarah panjang pabrik peternakan. Tujuan dari sistem pabrik adalah untuk mengonsentrasikan tubuh manusia di satu tempat untuk meningkatkan kontrol atas gerakan mereka. Perbedaan utama dengan pabrik peternakan adalah bahwa manusia hanya menjadi bagian mekanisme pabrik di sebagian hari hidupnya; kapitalisme membutuhkan tubuh mereka agar bisa bertahan selama mungkin dalam upaya memaksimalkan profit. Sementara bagi binatang, tujuannya adalah menggemukkan mereka untuk disembelih dalam waktu sesingkat mungkin—ayam broiler, di mana waktu hidup ayam secara alamiah adalah tujuh tahun, dimanipulasi hingga dapat menghasilkan daging sebanyak mungkin hanya dalam waktu hidup selama tujuh minggu.

Asal-usul penggunaan ban berjalan dalam proses produksi pabrik juga diawali dalam pabrik pengepakan daging di Amerika di abad ke-19. “Pabrik pengepakan daging adalah industri Amerika pertama yang menciptakan ban berjalan, karena tak mampu berurusan dengan arus konstan dari ternak yang didatangkan setiap hari.” (Jeremy Rifkin). “Henry Ford menjelaskan bahwa ide ban berjalan dalam pabrik mobil muncul dari para pengepak daging di Chicago.” (Carol Adams)

Pengembangbiakan: Intensifikasi Genetik pada Produksi

Jacques Camatte berkata bahwa “kapital menjadi otonom dengan mendomestikasikan manusia. Setelah menganalisa-memilah-membelah manusia, kapital merekonstruksi manusia ke dalam sebuah fungsi khusus dalam prosesnya.” Dengan manusia, proses ini dilengkapi tidak hanya melalui ideologi, tetapi juga dengan menerapkan pada tubuh manusia sejumlah rezim disiplin: sekolah, penjara dan pabrik.

Pada binatang, hal-hal tersebut jauh lebih pelik dengan memberikan modifikasi fisikal untuk membuat mereka semakin produktif. Terdapat sebuah sejarah panjang tentang pengembangbiakan binatang, sebagaimana yang dideskripsikan oleh Zerzan, “pendomestikasian binatang... mengesampingkan seleksi alamiah dan mengembangkan kembali dunia kontrol organik ke dalam sebuah tingkat artifisial.

Ditransmutasikan dari sebuah alam kebebasan ke dalam bentuk parasit yang tak tertolong, binatang-binatang tersebut sepenuhnya menjadi tergantung pada manusia untuk dapat bertahan hidup. Pada mamalia domestik, ukuran otak menjadi relatif lebih kecil atas semakin berkurangnya aktivitas. Tenang, tak berkembang, menjadi tipikal yang terjadi pada domba, binatang yang paling banyak didomestikasi; intelejensia yang terdapat pada domba liar sepenuhnya lenyap. Relasi sosial antarbinatang domestik direduksi pada segi esensial paling mendasar saja. Bagian-bagian dari lingkaran hidup yang tak reproduktif diminimalisir, dan kapasitas binatang untuk mengenali spesiesnya sendiri semakin berkurang.”

Di abad ke-20 sejumlah upaya untuk mengaplikasikan teknik pengembangbiakan binatang pada manusia telah dimulai, sebagaimana yang dipromosikan oleh gerakan eugenik. Sterilisasi paksa dan upaya lain dilakukan untuk menghentikan kelahiran bayi cacat. Saat hal ini diaplikasikan secara intensif oleh partai Nazi Jerman, program eugenik juga diimplementasikan di negeri sosial demokrat seperti Swedia. Di Inggris, eugenik memang tidak secara sistematis diaplikasikan, tetapi ide-idenya menjadi sangat berpengaruh pada beberapa politisi.

Pengembangbiakan selektif atas binatang kini diperbaharui melalui pengembangan sejumlah besar metoda teknologi biogenetik. Spesies-spesies binatang dimanipulasi secara genetiks untuk mengembangkan xenotransplantasi (tranplantasi organ antarspesies), farmasi (produksi obat-obatan dan berbagai produk lain dari binatang-binatang yang dimutasi secara genetik) dan peningkatan produktivitas makanan. Sebagai langkah lanjut dari komodifikasi kehidupan, beberapa parlemen Eropa telah memilih untuk mematenkan binatang dan tumbuhan yang telah dimutasi secara genetik. Perusahaan-perusahaan bioteknologi seperti Monsanto kini dapat mengajukan klaim bahwa beberapa tanaman hasil biogenetik adalah properti privat mereka.

Camatte meramalkan bahwa pada perkembangan jangka panjang mendatang, kapitalisme dapat menjadi “mutasi manusia atau pengubahan spesies: produksi sebuah makhluk yang sepenuhnya dapat diprogram dan kehilangan seluruh karakteristiknya sebagai spesies Homo Sapiens.” Critical Arts Ensemble mengatakan bahwa hal tersebut sebenarnya telah dimulai di mana “individu dari berbagai kelompok dan kelas sosial dipaksa untuk menyerahkan tubuh mereka untuk direkonfigurasi sehingga mereka dapat berfungsi dengan lebih efektif di bawah operasi yang terobsesi secara rasional dari pankapitalisme (produksi, konsumsi dan perintah).” Dalam masa depan yang tak terlalu jauh, mekanisme utamanya berupa penggabungan antara organisme dan substansi kimiawi seperti obat-obatan yang dapat mengontrol mood. Kloning, cyborg dan replika adalah materi bagi pembuatan karya fiksi-ilmiah, tetapi eksperimentasi pada binatang dan tumbuhan dan upaya untuk pengontrolan sepenuhnya atas alam beserta seluruh organisme yang eksis di dalamnya adalah juga tanda awal bahwa penerapannya pada manusia telah begitu dekat dan menjadi realisasi karya-karya fiksi-ilmiah di tengah masyarakat kelas.

Melampaui Humanisme

Dominasi manusia atas alam telah dijustifikasi oleh beberapa agama, banyak ideologi termasuk humanisme, yang mana kesemuanya menempatkan manusia sebagai pusat penciptaan, raja dunia, atas alam dan bukan di tengah alam. Batas antara manusia dan binatang dikokohkan dengan absolut dan jelas. Konstruksi “manusia” dalam imaji ini telah melibatkan penolakan dan represi atas kebutuhan dan hasrat manusia. Dengan demikian keseluruhan kategori hidup manusia, sebagaimana seks, tarian dan ketelanjangan, oleh para moralis dituduh sepanjang sejarah sebagai sifat yang liar dan “kebinatangan”.

Sang sosialis Italia, Antonio Gramsci, dalam karyanya Prison Notebooks menulis bahwa “sejarah industrialisme selalu berarti perjuangan yang berkelanjutan... melawan elemen kebinatangan dalam diri manusia. Ia selalu proses yang tak terinterupsi, seringkali menyakitkan dan berdarah dalam menundukkan insting-insting alamiah ke dalam norma-norma dan kebiasaan-kebiasaan baru yang lebih kompleks dan jelas akan aturan, kepastian dan kepresisian yang mana dapat membuat mungkin semakin meningkatnya bentuk-bentuk kehidupan kolektif yang kompleks yang mana adalah konsekuensi yang dibutuhkan dalam perkembangan industrial.”

Tetapi dalam kultur-kultur di mana penetrasi nilai-nilai kapital masih kurang kentara, kebinatangan justru menjadi sesuatu yang direngkuh dengan hati terbuka, bukannya malah dianggap sebagai degradasi. Seorang tetua suku Dogon di Mali, sesuai yang dicatat oleh Museum Horniman (1999) berkata, “Binatang-binatang lebih superior daripada manusia karena mereka menjadi milik semak belukar dan tak perlu bekerja. Banyak binatang yang memenuhi kebutuhan makanannya dengan apa yang oleh manusia ditumbuhkan dengan kerja yang menyakitkan.”

Pada faktanya kehidupan liar memang menyediakan sebuah kritik yang implisit atas masyarakat manusia, sebagai sebuah inspirasi dan sangat kontras dengan masyarakat yang terdomestikasi. Mengesampingkan potret kehidupan sosial binatang sekedar sebagai sebuah perang permanen demi mempertahankan hidup, setiap orang tahu betul bahwa anjing dan kucing (termasuk yang liar sekalipun) mengisi hidupnya hanya dengan bermalas-malasan dan bermain-main apabila tidak sedang makan atau mencari makan.

Sebagaimana yang Fredy Perlman perlihatkan, aktivitas binatang adalah sebuah oposit dari kerja yang teralienasi. Aktivitas manusia dalam masyarakat-masyarakat komunal primitif berlaku sebagai berikut: “sebuah pengatur gerak dan waktu yang mengamati seekor beruang di dekat pohon berry... beruang tak membedakan antara bekerja dan bermain. Apabila sang pengatur waktu memiliki sebuah imajinasi, ia mungkin akan berkata bahwa beruang tersebut mengalami keriangan dari momen di mana buah berry menjadi merah gelap dan tak ada satupun gerak sang beruang yang dapat dibilang sebagai kerja.”
‘Liar’ adalah sebuah istilah peyoratif yang diterapkan pada apapun yang bebas (dan mereka yang berniat untuk menjadi bebas), sebagaimana perempuan yang menolak ditundukkan oleh aturan masyarakat dilabeli perempuan liar. Tetapi apabila kita membalikkan ide tentang keliaran ini sebagai sebuah kebebasan, maka justru itulah yang justru menjadi nilai kebajikan. Lantas juga apabila kita merunut pada Martin Luther saat di tahun 1530 berkata, “kepemilikan properti privat adalah sebuah esensi yang membedakan antara manusia dan binatang” (Keith Thomas) dan menilik ucapan Proudhon bahwa “properti adalah pencurian”, sebagaimana kita kini paham bahwa akibat keberadaan properti privat-lah maka hidup di dunia menjadi sedemikian menyengsarakannya, maka berbahagialah mereka yang dianggap binatang, karena ia hidup lebih murni, alami dan lebih dekat pada kebebasan.

Baca selengkapnya.....

Kamis, 23 April 2009

belajar menjadi hacker

Onno W. Purbo

Hacker dengan keahliannya dapat melihat & memperbaiki kelemahan perangkat lunak di komputer; biasanya kemudian di publikasikan secara terbuka di Internet agar sistem menjadi lebih baik. Sialnya, segelintir manusia berhati jahat menggunakan informasi tersebut untuk kejahatan – mereka biasanya disebut cracker. Pada dasarnya dunia hacker & cracker tidak berbeda dengan dunia seni, disini kita berbicara seni keamanan jaringan Internet.

Saya berharap ilmu keamanan jaringan di tulisan ini digunakan untuk hal-hal yang baik – jadilah Hacker bukan Cracker. Jangan sampai anda terkena karma karena menggunakan ilmu untuk merusak milik orang lain. Apalagi, pada saat ini kebutuhan akan hacker semakin bertambah di Indonesia dengan semakin banyak dotcommers yang ingin IPO di berbagai bursa saham. Nama baik & nilai sebuah dotcom bisa jatuh bahkan menjadi tidak berharga jika dotcom di bobol. Dalam kondisi ini, para hacker di harapkan bisa menjadi konsultan keamanan bagi para dotcommers tersebut – karena SDM pihak kepolisian & aparat keamanan Indonesia amat sangat lemah & menyedihkan di bidang Teknologi Informasi & Internet. Apa boleh buat cybersquad, cyberpatrol swasta barangkali perlu di budayakan untuk survival dotcommers Indonesia di Internet.


Berbagai teknik keamanan jaringan Internet dapat di peroleh secara mudah di Internet antara lain di http://www.sans.org, http://www.rootshell.com, http://www.linuxfirewall.org/, http://www.linuxdoc.org, http://www.cerias.purdue.edu/coast/firewalls/, http://www.redhat.com/mirrors/LDP/HOWTO/. Sebagian dari teknik ini berupa buku-buku yang jumlah-nya beberapa ratus halaman yang dapat di ambil secara cuma-cuma (gratis). Beberapa Frequently Asked Questions (FAQ) tentang keamanan jaringan bisa diperoleh di http://www.iss.net/vd/mail.html, http://www.v-one.com/documents/fw-faq.htm. Dan bagi para experimenter beberapa script / program yang sudah jadi dapat diperoleh antara lain di http://bastille-linux.sourceforge.net/, http://www.redhat.com/support/docs/tips/firewall/firewallservice.html.

Bagi pembaca yang ingin memperoleh ilmu tentang jaringan dapat di download secara cuma-cuma dari http://pandu.dhs.org, http://www.bogor.net/idkf/, http://louis.idaman.com/idkf. Beberapa buku berbentuk softcopy yang dapat di ambil gratis dapat di ambil dari http://pandu.dhs.org/Buku-Online/. Kita harus berterima kasih terutama kepada team Pandu yang dimotori oleh I Made Wiryana untuk ini. Pada saat ini, saya tidak terlalu tahu adanya tempat diskusi Indonesia yang aktif membahas teknik-teknik hacking ini – tetapi mungkin bisa sebagian di diskusikan di mailing list lanjut seperti kursus-linux@yahoogroups.com & linux-admin@linux.or.id yang di operasikan oleh Kelompok Pengguna Linux Indonesia (KPLI) http://www.kpli.or.id.

Cara paling sederhana untuk melihat kelemahan sistem adalah dengan cara mencari informasi dari berbagai vendor misalnya di http://www.sans.org/newlook/publications/roadmap.htm#3b tentang kelemahan dari sistem yang mereka buat sendiri. Di samping, memonitoring berbagai mailing list di Internet yang berkaitan dengan keamanan jaringan seperti dalam daftar http://www.sans.org/newlook/publications/roadmap.htm#3e.

Dijelaskan oleh Front-line Information Security Team, “Techniques Adopted By 'System Crackers' When Attempting To Break Into Corporate or Sensitive Private Networks,” fist@ns2.co.uk http://www.ns2.co.uk. Seorang Cracker umumnya pria usia 16-25 tahun. Berdasarkan statistik pengguna Internet di Indonesia maka sebetulnya mayoritas pengguna Internet di Indonesia adalah anak-anak muda pada usia ini juga. Memang usia ini adalah usia yang sangat ideal dalam menimba ilmu baru termasuk ilmu Internet, sangat disayangkan jika kita tidak berhasil menginternetkan ke 25000 sekolah Indonesia s/d tahun 2002 – karena tumpuan hari depan bangsa Indonesia berada di tangan anak-anak muda kita ini.

Nah, para cracker muda ini umumnya melakukan cracking untuk meningkatkan kemampuan / menggunakan sumber daya di jaringan untuk kepentingan sendiri. Umumnya para cracker adalah opportunis. Melihat kelemahan sistem dengan mejalankan program scanner. Setelah memperoleh akses root, cracker akan menginstall pintu belakang (backdoor) dan menutup semua kelemahan umum yang ada.

Seperti kita tahu, umumnya berbagai perusahaan / dotcommers akan menggunakan Internet untuk (1) hosting web server mereka, (2) komunikasi e-mail dan (3) memberikan akses web / internet kepada karyawan-nya. Pemisahan jaringan Internet dan IntraNet umumnya dilakukan dengan menggunakan teknik / software Firewall dan Proxy server. Melihat kondisi penggunaan di atas, kelemahan sistem umumnya dapat di tembus misalnya dengan menembus mailserver external / luar yang digunakan untuk memudahkan akses ke mail keluar dari perusahaan. Selain itu, dengan menggunakan agressive-SNMP scanner & program yang memaksa SNMP community string dapat mengubah sebuah router menjadi bridge (jembatan) yang kemudian dapat digunakan untuk batu loncatan untuk masuk ke dalam jaringan internal perusahaan (IntraNet).

Agar cracker terlindungi pada saat melakukan serangan, teknik cloacking (penyamaran) dilakukan dengan cara melompat dari mesin yang sebelumnya telah di compromised (ditaklukan) melalui program telnet atau rsh. Pada mesin perantara yang menggunakan Windows serangan dapat dilakukan dengan melompat dari program Wingate. Selain itu, melompat dapat dilakukan melalui perangkat proxy yang konfigurasinya kurang baik.

Setelah berhasil melompat dan memasuki sistem lain, cracker biasanya melakukan probing terhadap jaringan dan mengumpulkan informasi yang dibutuhkan. Hal ini dilakukan dengan beberapa cara, misalnya (1) menggunakan nslookup untuk menjalankan perintah 'ls ' , (2) melihat file HTML di webserver anda untuk mengidentifikasi mesin lainnya, (3) melihat berbagai dokumen di FTP server, (4) menghubungkan diri ke mail server dan menggunakan perintah 'expn ', dan (5) mem-finger user di mesin-mesin eksternal lainnya.

Langkah selanjutnya, cracker akan mengidentifikasi komponen jaringan yang dipercaya oleh system apa saja. Komponen jaringan tersebut biasanya mesin administrator dan server yang biasanya di anggap paling aman di jaringan. Start dengan check akses & eksport NFS ke berbagai direktori yang kritis seperti /usr/bin, /etc dan /home. Eksploitasi mesin melalui kelemahan Common Gateway Interface (CGI), dengan akses ke file /etc/hosts.allow.

Selanjutnya cracker harus mengidentifikasi komponen jaringan yang lemah dan bisa di taklukan. Cracker bisa mengunakan program di Linux seperti ADMhack, mscan, nmap dan banyak scanner kecil lainnya. Program seperti 'ps' & 'netstat' di buat trojan (ingat cerita kuda troya? dalam cerita klasik yunani kuno) untuk menyembunyikan proses scanning. Bagi cracker yang cukup advanced dapat mengunakan aggressive-SNMP scanning untuk men-scan peralatan dengan SNMP.

Setelah cracker berhasil mengidentifikasi komponen jaringan yang lemah dan bisa di taklukan, maka cracker akan menjalan program untuk menaklukan program daemon yang lemah di server. Program daemon adalah program di server yang biasanya berjalan di belakang layar (sebagai daemon / setan). Keberhasilan menaklukan program daemon ini akan memungkinkan seorang Cracker untuk memperoleh akses sebagai ‘root’ (administrator tertinggi di server).

Untuk menghilangkan jejak, seorang cracker biasanya melakukan operasi pembersihan 'clean-up‘ operation dengan cara membersihkan berbagai log file. Dan menambahkan program untuk masuk dari pintu belakang 'backdooring'. Mengganti file .rhosts di /usr/bin untuk memudahkan akses ke mesin yang di taklukan melalui rsh & csh.

Selanjutnya seorang cracker dapat menggunakan mesin yang sudah ditaklukan untuk kepentingannya sendiri, misalnya mengambil informasi sensitif yang seharusnya tidak dibacanya; mengcracking mesin lain dengan melompat dari mesin yang di taklukan; memasang sniffer untuk melihat / mencatat berbagai trafik / komunikasi yang lewat; bahkan bisa mematikan sistem / jaringan dengan cara menjalankan perintah ‘rm –rf / &’. Yang terakhir akan sangat fatal akibatnya karena sistem akan hancur sama sekali, terutama jika semua software di letakan di harddisk. Proses re-install seluruh sistem harus di lakukan, akan memusingkan jika hal ini dilakukan di mesin-mesin yang menjalankan misi kritis.

Oleh karena itu semua mesin & router yang menjalankan misi kritis sebaiknya selalu di periksa keamanannya & di patch oleh software yang lebih baru. Backup menjadi penting sekali terutama pada mesin-mesin yang menjalankan misi kritis supaya terselamatkan dari ulah cracker yang men-disable sistem dengan ‘rm –rf / &’.

Bagi kita yang sehari-hari bergelut di Internet biasanya justru akan sangat menghargai keberadaan para hacker (bukan Cracker). Karena berkat para hacker-lah Internet ada dan dapat kita nikmati seperti sekarang ini, bahkan terus di perbaiki untuk menjadi sistem yang lebih baik lagi. Berbagai kelemahan sistem di perbaiki karena kepandaian rekan-rekan hacker yang sering kali mengerjakan perbaikan tsb. secara sukarela karena hobby-nya. Apalagi seringkali hasil hacking-nya di sebarkan secara cuma-cuma di Internet untuk keperluan masyarakat Internet. Sebuah nilai & budaya gotong royong yang mulia justru tumbuh di dunia maya Internet yang biasanya terkesan futuristik dan jauh dari rasa sosial.

Pengembangan para hobbiest hacker ini menjadi penting sekali untuk keberlangsungan / survival dotcommers di wahana Internet Indonesia. Sebagai salah satu bentuk nyatanya, dalam waktu dekat Insya Allah sekitar pertengahan April 2001 akan di adakan hacking competition di Internet untuk membobol sebuah server yang telah di tentukan terlebih dahulu. Hacking competition tersebut di motori oleh anak-anak muda di Kelompok Pengguna Linux Indonesia (KPLI) Semarang yang digerakan oleh anak muda seperti Kresno Aji (masaji@telkom.net), Agus Hartanto (hartx@writeme.com) & Lekso Budi Handoko (handoko@riset.dinus.ac.id). Seperti umumnya anak-anak muda lainnya, mereka umumnya bermodal cekak – bantuan & sponsor tentunya akan sangat bermanfaat dan dinantikan oleh rekan-rekan muda ini.

Mudah-mudahan semua ini akan menambah semangat pembaca, khususnya pembaca muda, untuk bergerak di dunia hacker yang mengasyikan dan menantang. Kalau kata Captain Jean Luc Picard di Film Startrek Next Generation, “To boldly go where no one has gone before”.

Baca selengkapnya.....

Rabu, 22 April 2009

Perbedaan Cara Berfikir Dunia Biasa vs. Dunia Cyber

oleh onno w purbo

Di akhir November 2000 saya mendapat kesempatan untuk terlibat dalam pertemuan / perbincangan teman-teman di Mall Ambasador di bilangan Casablanca Jakarta. Sebagian besar dari teman-teman ini adalah pemilik toko / outlet di Mall Ambasador. Cerita menjadi menarik karena pada saat ini ternyata Mall Ambasador sedang menarik kabel Local Area Network (LAN) ke seluruh kompleks Mall Ambasador yang terhubung langsung ke Internet 24 jam pada kecepatan 2Mbps. Ide nekad-nya adalah semua toko / tenant di Mall Ambasador jadi bisa mengakses Internet 24 jam tanpa perlu berlangganan kepada ISP, tanpa perlu menarik kabel telepon tambahan pada kecepatan yang relatif tinggi 2Mbps; di tambah fasilitas situs Web yang gratis untuk setiap toko, bahkan managemen menawarkan training Internet gratis & juga pembuatan Web sederhana yang gratis bagi si pemilik toko / tenant yang tertarik untuk berpartisipasi. Lebih gila lagi, ternyata perkiraan biaya langganan setiap toko / bulan hanya sekitar Rp. 200.000 / bulan / toko untuk semua kemudahan cyber tersebut.


Bagi kita yang sudah biasa menggembara di Internet memang aktifitas demikian menjadi bukan main menariknya. Bahkan bukan mustahil kalau memang Mall Ambasador bisa mengoperasikan infrastruktur mereka dalam waktu singkat dalam orde beberapa bulan mendatang, bukan mustahil Mall Ambasador akan menjadi CyberMall pertama di Indonesia yang mengkaitkan secara serius toko / tenant di dalam-nya ke Internet melalui infrastruktur berkecepatan tinggi tsb.

Terlepas dari hal-hal yang menarik di atas dari sisi Internet, ternyata dalam diskusi bersama teman-teman Mall Ambasador ini mencuat beberapa hal yang menarik karena ternyata banyak pola fikir, budaya, aspek sosial yang mungkin akan sangat terpengaruh dengan adanya penambahan infrastruktur Internet di sebuah Mall. Beberapa contoh pertanyaan yang menggelitik hati kecil saya adalah:

• Dengan adanya Internet maka kemungkinan pengunjung mall ambasador akan berkurang? Padahal selama ini sebuah Mall umumnya di nilai dari jumlah pengunjung & jumlah mobil yang datang ke Mall tersebut.
• Apa yang bisa dibantu oleh Internet terhadap restoran? Padahal umumnya orang datang ke restoran untuk bersantap makan?
• Apakah kita harus standby 24 di depan komputer untuk menjawab pertanyaan orang yang masuk ke Web masing-masing toko?
• Apakah kita bisa mengetahui berapa orang yang memasuki situs Web masing-masing toko?

Beberapa pertanyaan di atas merupakan contoh pertanyaan yang dikeluarkan oleh beberapa teman di Mall Ambasador tsb. Pertanyaan tersebut tampaknya merupakan pertanyaan yang cukup solid yang sering kali ditanyakan dalam beberapa kesempatan yang memperlihatkan adanya pola bisnis / pola fikir yang berbeda antara dunia konvensional dan dunia maya.

Memang pada pola yang sederhana kita bisa melihat dunia maya / Internet sebagai media tambahan di samping fasilitas komunikasi kita yang lainnya seperti telepon & fax. Dalam pola yang sederhana, Internet dapat dilihat sebagai extension saja dari telepon & fax – usaha tetap dijalankan seperti sediakala. Dengan adanya extension tersebut maka customer base yang tadinya hanya bergantung pada 2 jenis transaksi saja yaitu orang yang datang langsung ke Mall dan yang datang melalui telepon / fax sekarang menjadi bertambah dengan orang / transaksi yang datang melalui Internet.

Tampaknya dari beberapa pertanyaan yang dilontarkan, ada kecenderungan bahwa teman-teman ini merasakan keperluan akan perubaha pola usaha, pola sosial yang disebabkan dengan adanya Internet. Sebagai gambaran:

• Internet merupakan dunia yang tidak dibatasi dimensi-dimensi fisik & waktu, keharusan untuk datang ke Mall untuk berbelanja menjadi tidak relevan – artinya toko yang ada di Mall selain melayani pengunjung Mall nantinya dengan senang hati melayani juga pengunjung yang datang melalui Internet. Memang mungkin jumlah pengunjung ke Mall akan menurun – akan tetapi omset secara keseluruhan belum tentu menurun bahkan mungkin akan meningkat.

• Pola usaha / pola bisnis perlu di kaji ulang, dengan adanya Internet interaksi tidak lagi dilakukan secara fisik terhadap pengunjung yang datang tapi sekarang merambah ke pengunjung / transaksi yang datang tidak secara fisik ke Mall. Jelas bahwa pola delivery barang yang tadinya langsung diberikan kepada pengunjung menjadi harus dikirim melalui biro jasa pengiriman barang.

• Yang juga sering salah dalam persepsi adalah melihat pemasangan Web sebagai satu-satunya alat yang bisa dipakai di Internet. Web mungkin cukup ampuh untuk menyebarkan informasi secara mudah dan murah. Akan tetapi agar kita juga dikenal di masyarakat Internet, ada baiknya kita aktif dalam berdiskusi di berbagai forum diskusi Internet. Keaktifan tersebut selain untuk memperkenalkan eksistensi kita, juga menaikan image bahwa kita cukup ahli dan terbaik dalam bidang yang kita geluti.

• Orang awam sering kali berfikir bahwa dia harus standby 24 jam untuk menjawab e-mail / berinteraksi dengan orang di Internet, padahal komputer memungkinkan agar tidak perlu standby dihadapan komputer secara terus menerus untuk berinteraksi dengan e-mail. Pekerjaan menjawab / membaca e-mail cukup dilakukan secara rutin 1-2 kali se hari di waktu-waktu yang senggang saja.

• Berbeda dengan media biasa yang sering kali sulit untuk memperoleh statistik pengunjung, user-nya dalam dunia elektronik segala sesuatu-nya biasanya di catat secara automatis oleh komputer. Statistik dari berbagai hal dapat dengan mudah diperoleh. Jika kita cukup pandai menarik keanggotaan maka kita akan dapat dengan mudah melihat profile pelanggan toko kita seperti berapa persen yang pelajar, profesional, ibu rumah tangga, tingkat penghasilannya, tingkat pendidikannnya dll. Semua itu pada akhirnya akan sangat membantu kita dalam menentukan arah perkembangan servis yang ingin kita berikan kepada masyarakat.

Semua ini hanya sebagian kecil dari beberapa paradigma yang mungkin berubah dengan adanya sambungan Internet berkecepatan tinggi 2Mbps kedalam sebuah Mall seperti Mall Ambassador di bilangan Casablanca Jakarta. Biasanya kita yang masih berada di dunia konvensional sering kali melakukan kesalahan karena pola fikir yang ada masih terbelenggu dengan batasan-batasan fisik, ruang, waktu yang biasa ada di dunia konvensional yang sering kali tidak berlaku dalam dunia maya.

Baca selengkapnya.....

Minggu, 19 April 2009

tiada tuhan di dunia cyber

oleh Onno W. Purbo

Dalam seminar sehari “Internet dalam Perspektif Kebudayaan” yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Kebudayaan dan Perubahan Sosial (PPKPS) Centre for Cultural Studies and Social Change, Universitas Gajah Mada (UGM) di Jogyakarta pertengahan Mei 2001 yang lalu, tampaknya pandangan sebagian pengamat sosial, pengguna awal Internet & kebanyakan orang - melihat bahwa Tiada Tuhan di dunia maya. Sebuah pandangan yang cukup mengejutkan bagi saya pribadi yang sudah menggunakan e-mail / cikal bakal Internet sejak tahun 1985-86.

Internet terlihat oleh sebagian besar orang, pengguna, pengamat sosial sebagai dunia tanpa batas, dunia tanpa aturan, dunia kebebasan. Bahkan lebih ekstrim lagi, sebagian peserta bahkan tampaknya meyakini sepenuh hatinya bahwa Tiada Tuhan di Dunia Maya. Apakah memang demikian adanya?


Banyak logika dunia nyata yang terbalik jika kita berada di Internet. Sesuatu yang tidak sopan, yang kasar, yang porno, yang tidak pantas – menjadi sesuatu yang lumrah & sepertinya harus di penuhi dengan sepenuh hati di Internet. Sebuah situs porno bahkan bisa di hujat habis-habisan oleh penggunanya karena kurang porno. Tidak ada tuntutan secara hukum bagi seseorang yang melakukan tindakan asusila di ruang publik Internet. Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak orang di Indonesia yang mencuri menggunakan kartu kredit curian di Internet. Gosip, memojokan orang lain, surat kaleng, menjadi hal yang sangat biasa di Internet. Aparat terlihat impoten menghadapi kejahatan di dunia maya, tidak ada UU, PP, KUHP, yang dapat memojokan pelaku tindak tidak baik ini ke meja hijau – adakah meja hijau di Internet? Adakah cyberlaw? Tampaknya tidak Ada.

Saya kebetulan menghidupi diri saya di dunia maya, tanpa memiliki pekerjaan sama sekali di dunia biasa. Sehari-hari dirumah menulis. Tidak mungkin bagi saya untuk melakukan hal-hal yang tidak sopan, porno dsb. Pada saat itu dilakukan kepercayaan (trust) masyarakat akan hilang & secara otomatis masyarakat akan mengisolasi, memencilkan orang yang melakukan hal yang tidak baik tadi. Rizki akan hilang di sebabkan oleh kesalahan yang dilakukan. Sialnya, kesalahan, tindakan tidak baik sekecil apapun jika dilakukan di dunia maya akan dengan sangat mudah tersebar – proses pengadilan rakyat akan terjadi secara alamiah terhadap pembuat kesalahan. Disini memang tidak menggunakan hukum tertulis, melainkan hukum tidak tertulis, hukum adat, konsensus yang dibangun antar umat. Sekali lancung ke ujian, seumur hidup tidak dipercaya – sangat tepat untuk menggambarkan kondisi yang ada.

Hal di atas sering tidak di sadari oleh rekan-rekan yang melakukan pencurian kartu kredit, pelanggaran susila di Internet. Mereka sering berfikir bahwa tidak ada hukum tertulis & aparat penegak hukum yang dapat menangkap mereka. Kenyataannya, ada hukum tidak tertulis, hukum adat yang akan menghukum antar sesama masyarakat yang melakukan hal yang tidak baik.

Sebaliknya yang akan terjadi jika kita berbuat baik, beramal soleh kepada sesama umat, proses amal tersebut dapat menjadi sangat effisien dengan menggunakan teknologi internet. Dengan biaya yang sangat murah sekali kita dapat menyebarkan ilmu pengetahuan yang ada pada diri kita ke sebanyak mungkin orang secara effisien dengan cara meng-attach-nya & mengirimkannya melalui e-mail. Saya sendiri mengeluarkan biaya Rp. 40-60.000 / bulan untuk Internet dengan beban 600 surat setiap harinya. Sebagian besar adalah diskusi yang dilakukan melalui mailing list Internet. Dengan biaya serendah itu semua pengetahuan yang ada di kepala dicoba untuk di sebarkan, di interaksikan dengan rekan-rekan yang ada. Tidak mahal untuk berbuat baik di Internet.

Alhamdullillah, reward, balasan yang diperoleh dari perbuatan baik yang biayanya tidak mahal tersebut biasanya jauh lebih besar daripada apa yang kita keluarkan. Sebagai seorang pensiunan PNS, seorang bekas dosen ITB yang tidak bekerja dimana-mana, tidak memberikan konsultasi, tidakmengajar lagi kecuali menulis & memberikan ceramah saja. Masih dapat hidup cukup lah untuk makan tiga kali sehari. Disini tampaknya sang Pencipta manusia menampakan hidayah-nya di dunia maya. Allah SWT maha adil & tidak pernah akan salah menghitung akan amal ibadah yang kita lakukan.

Konsekuensi di atas juga sebetulnya banyak berpengaruh pada berbagai aspek sosial budaya manusia. Contoh isu hak cipta & hak paten, bagi pekerja seni, peneliti, programmer – copyright adalah salah satu mekanisme proteksi berbasis hukum tertulis atas sebuah karya. Hak ekonomi di jamin secara hukum tertulis, seseorang yang menjiplak, membajak akan dikenai sanksi pidana. Masalahnya bagi pekerja seni, peneliti & programmer yang masih kecil, belum beken – sulit & mahal sekali bagi mereka untuk mengikuti liku-liku jalur distribusi kaset, CD, software. Cara yang paling murah adalah menyebarkan hasil karyanya secara langsung di Internet secara gratis, copyleft digunakan. Hukum tidak tertulis, hukum adat, konsensus masyarakat Internet yang digunakan untuk memproteksi agar hak ekonomis si pekerja seni, peneliti, programmer tetap terjaga. Kita mengenal Linux, Napster dll yang menganut paham copyleft tersebut. Paham ini memungkinkan rakyat kecil bisa hidup & eksis dalam dunia ini tanpa perlu modal yang terlalu besar, akan tetapi memperoleh reward yang lumayan untuk tetap survive.

Semua ini dimungkinkan karena platform tempat kita berada bergeser dari platform yang informasi-nya lambat di dunia nyata ke platform Internet yang memungkinkan kita mengirimkan hasil karya, informasi & pengetahuan secara seketika. Berbagai paradigma dunia nyata menjadi dipertanyakan, platform akan mengarah membentuk sebuah masyarakat yang tidak berkelas, masyarakat yang sederajat, sejajar, setiap orang tidak lebih & tidak kurang dari yang lain kembali kepada fitrahnya sebagai manusia di muka bumi untuk beramal secara horizontal antar sesama umat & beribadah secara vertikal kepada penciptanya.

Tiada Tuhan selain Allah – yang didengungkan di dunia nyata, juga berlaku dengan baik di dunia maya. Bahkan berbagai struktur, birokrasi, kekuasaan menjadi luluh rata oleh infrastruktur maya ini mengembalikan manusia kepada fitrahnya.

Baca selengkapnya.....

Sabtu, 18 April 2009

belajar menjadi hacker

Belajar Menjadi Hacker

Onno W. Purbo

Pada saat saya menulis ini, saya sangat berharap bahwa ilmu keamanan jaringan nantinya digunakan untuk hal-hal yang baik. Jangan sampai anda terkena karma karena menggunakan ilmu untuk merusak milik orang lain. Apalagi, pada saat ini kebutuhan akan hacker semakin bertambah di Indonesia dengan semakin banyak dotcommers yang ingin IPO di berbagai bursa saham. Nama baik sebuah dotcom akan jatuh jika situs mereka sampai bobol, rekan-rekan hacker sangat di harapkan menjadi konsultan keamanan bagi para dotcommers tersebut.


Berbagai teknik keamanan jaringan Internet dapat di peroleh secara mudah di Internet antara lain di http://www.sans.org, http://www.rootshell.com, http://www.linuxfirewall.org/, http://www.cerias.purdue.edu/coast/firewalls/, http://www.redhat.com/mirrors/LDP/HOWTO/VPN-Masquerade-HOWTO.html. Beberapa Frequently Asked Questions (FAQ) tentang keamanan jaringan bisa diperoleh di http://www.iss.net/vd/mail.html, http://www.v-one.com/documents/fw-faq.htm. Dan bagi para experimenter beberapa script / program yang sudah jadi dapat diperoleh antara lain di http://bastille-linux.sourceforge.net/, http://www.redhat.com/support/docs/tips/firewall/firewallservice.html.

Cara paling sederhana untuk melihat kelemahan sistem adalah dengan cara mencari informasi dari berbagai vendor misalnya di http://www.sans.org/newlook/publications/roadmap.htm#3b tentang kelemahan dari sistem yang mereka buat sendiri. Di samping, memonitoring berbagai mailing list di Internet yang berkaitan dengan keamanan jaringan seperti dalam daftar http://www.sans.org/newlook/publications/roadmap.htm#3e.

Pada dasarnya dunia hacker & cracker tidak berbeda jauh dunia seni kebetulan disini kita berbicara tentang seni perang & seni keamanan jaringan. Seperti dijelaskan oleh Front-line Information Security Team, “Techniques Adopted By 'System Crackers' When Attempting To Break Into Corporate or Sensitive Private Networks,” fist@ns2.co.uk http://www.ns2.co.uk. Seorang cacker umumnya pria usia 16-25 tahun. Melakukan cacking untuk meningkatkan kemampuan atau menggunakan sumber daya di jaringan untuk kepentingan sendiri. Umumnya cracker adalah opportunis. Melihat kelemahan sistem dengan mejalankan program scanner. Setelah memperoleh akses root, umumnya cracker akan menginstall pintu belakang (backdoor) dan menutup semua kelemahan umum yang ada.

Seperti kita tahu bahwa umumnya berbagai perusahaan / dotcommers akan menggunakan Internet untuk (1) hosting web server mereka, (2) komunikasi e-mail dan (3) memberikan akses web / internet kepada karyawan-nya. Pemisahan jaringan Internet dan IntraNet umumnya dilakukan dengan menggunakan teknik / software Firewall dan Proxy server. Melihat kondisi penggunaan di atas, kelemahan sistem umumnya dapat di tembus misalnya dengan menembus mailserver external / luar yang memudahkan akses ke mail server dalam perusahaan. Dengan menggunakan agressive-SNMP scanner & program yang memaksa SNMP community string dapat mengubah sebuah router menjadi bridge (jembatan) yang kemudian dapat digunakan untuk batu loncatan.

Agar cracker terlindungi pada saat melakukan serangan, teknik cloacking dilakukan dengan cara melompat dari mesin yang sebelumnya telah di compromised (ditaklukan) melalui program telnet atau rsh. Pada mesin Windows serangan dapat dilakukan dengan melompat dari software wingate. Atau melompat dari mesin yang menggunakan proxy yang konfigurasinya kurang baik.

Setelah berhasil melompat dan memasuki sistem lain, cracker harus melakukan probing terhadap jaringan dan mengumpulkan informasi yang dibutuhkan. Hal ini dilakukan dengan beberapa cara, misalnya (1) menggunakan nslookup untuk menjalankan perintah 'ls ' , (2) melihat file HTML di webserver anda untuk mengidentifikasi mesin lainnya, (3) melihat berbagai dokumen di FTP server, (4) menghubungkan diri ke mail server dan menggunakan perintah 'expn ', dan (5) mem-finger user di mesin-mesin eksternal lainnya.

Langkah selanjutnya, cracker akan mengidentifikasi komponen jaringan yang dipercaya oleh system apa saja. Komponen jaringan tersebut biasanya mesin administrator dan server yang biasanya di anggap paling aman di jaringan. Start dengan check akses & eksport NFS ke berbagai direktori yang kritis seperti /usr/bin, /etc dan /home. Eksploitasi mesin melalui kelemahan Common Gateway Interface (CGI), dengan akses ke file /etc/hosts.allow.

Selanjutnya cracker harus mengidentifikasi komponen jaringan yang lemah dan bisa di taklukan. Cracker bisa mengunakan program di Linux seperti ADMhack, mscan, nmap dan banyak scanner kecil lainnya. Program seperti 'ps' & 'netstat' di buat trojan (ingat cerita kuda troya?) untuk menyembunyikan proses scanning. Bagi cracker yang cukup advanced dapat mengunakan aggressive-SNMP scanning untuk men-scan peralatan dengan SNMP.

Setelah cracker berhasil mengidentifikasi komponen jaringan yang lemah dan bisa di taklukan, maka cracker akan menjalan program untuk menaklukan program daemon di server yang lemah. Selanjutnya cracker dapat dengan mudah memperoleh akses sebagai ‘root’ (administrator tertinggi di server).

Untuk menghilangkan jejak, seorang cracker perlu melakukan operasi pembersihan 'clean-up‘ operation dengan cara membersihkan berbagai log file. Dan menambahkan program untuk masuk dari pintu belakang 'backdooring'. Mengganti file .rhosts di /usr/bin untuk memudahkan akses ke mesin yang di taklukan melalui rsh & csh.

Selanjutnya seorang cracker dapat menggunakan mesin yang sudah ditaklukan untuk kepentingannya sendiri, misalnya mengambil informasi sensitif yang seharusnya tidak dibaca, cracking mesin lain dengan melompat dari mesin yang di taklukan, memasang sniffer untuk melihat / mencatat berbagai trafik / komunikasi yang lewat, bahkan bisa mematikan jaringan dengan cara menjalankan perintah ‘rm –rf / &’.

Oleh karena itu semua mesin & router yang menjalankan misi kritis sebaiknya selalu di periksa keamanannya & di patch oleh software yang lebih baru.

Baca selengkapnya.....

Jumat, 17 April 2009

situs hacker indonesia

Situs Hacker Indonesia

Onno W. Purbo

Mungkin cara paling mudah untuk mulai belajar teknik hacking adalah mengunjungi situs hacking berbahasa Indonesia, daripada yang berbahasa Inggris. Ada dua (2) situs hacker yang ada diperlihatkan disini, yaitu:

• http://www.k-elektronik.org (Kecoa Elektronik)
• http://www.hackerlink.or.id


Halaman muka situs milik rekan-rekan dari Kecoa Elektronik yang cukup menyeramkan dengan warna dasar hitam dan potingan muka kecoa ke emas-an menonjol ke luar dari warna dasarnya.

Ada beberapa menu yang dapat dipilih untuk melihat informasi lebih lanjut.


Bagian yang cukup menarik untuk dikunjungi oleh pemula adalah tutorial untuk menjadi hacker kelas rendahan, istilah keren-nya script kiddies.

Di situ dijelaskan langkah yang perlu dilakukan oleh hacker pemula, di lengkapi dengan beberapa script untuk di coba.

Perlu diperhatikan disini bahwa hacker yang baik tidak akan merusak mesin yang diserang, ada baiknya membaca-baca tentang etika hacking untuk menjadikan anda hacker yang baik.


Bagian yang tidak kalah menarik adalah bagian majalah (ezine) dari Kecoa Elektronik, yang pada saat tulisan ini dibuat telah mencapai edisi ke empat (4).

e-zine tersebut memuat beberapa artikel yang menjelaskan beberapa detail teknik hacking.

Umumnya teks artikel dalam format ASCII text bukan HTML, sehingga seperti tidak menarik untuk pengguna Web biasa, tapi memang demikianlah dunia underground – mereka biasanya menggunakan format ASCII text untuk menuliskan berbagai dokumen mereka.

Salah satu contoh artikel di e-zine Kecoa Elektronik yang berjudul “Tutorial Back Oriface” yang ditulis oleh skwp.

Terlihat jelas text-nya menggunakan format ASCII text.










Situs hacker Indonesia yang lain adalah hackerlink yang berlokasi di http://www.hackerlink.or.id.

Tampilannya lebih cantik daripada Kecoa Elektronik, sayangnya bagi saya yang mengaskes dari IndoNet terasa lebih lambat.

Tidak banyak yang dapat dilihat di situs ini, terutama yang bermanfaat adalah berita hacker.



Fasilitas Free webmail di sediakan oleh situs http://webmail.hackerlink.or.id.

Tentunya anda harus registrasi dulu sebelum menggunakan webmail mereka.

Baca selengkapnya.....

Jumat, 10 April 2009

gaya hidup dunia cyber

oleh onno w purbo


Nerd, tampang kusut, kurang tidur, jarang mandi, nongkrong seharian di depan komputer, bercelana jeans atau celana pendek dan berbaju kaos oblong barangkali bayangan bagi kebanyakan orang tentang orang yang bekerja di dunia maya atau bahasa keren-nya dunia cyber. Bebas dalam berfikir, bebas dalam berkarya, tidak terikat pada satu kantor tertentu, satu instansi yang jelas merupakan ciri khas pola berfikir dan bekerja para eksekutif maya ini.

Apakah demikian kenyataan dilapangannya? Saya akan mencoba menceritakan sedikit
pengalaman saya selama paling tidak satu tahun lebih menjadi pensiunan PNS, pensiunan dosen ITB yang tidak bekerja dimana-mana, tidak bekerja pada siapa-siapa kecuali untuk masyarakat banyak dan seluruhnya dilakukan dari rumah, tanpa institusi, tanpa embel-embel perusahaan apapun, tanpa gaji, tanpa penghasilan yang jelas.


Barangkali sebagian dari bayangan orang tentang pekerja eksekutif di dunia maya ada
benarnya. Benar, ada banyak pola fikir alternatif yang keluar karena saya tidak di ikat sama sekali oleh struktur, oleh perusahaan, oleh institusi apapun. Berkreasi dan cara melihat masalah akan sangat lain dengan teman-teman yang di ikat oleh kebijakan institusi, peraturan pemerintah, keinginan untuk naik pangkat, takut jatuh dan kehilangan kekuasaan semua menjadi tidak relevan. Pada akhirnya seorang pekerja cyber, bekerja & berkarya untuk masyarakat banyak bukan untuk diri sendiri semata, tapi harus untuk masyarakat banyak. Bagaimana supaya karyanya, pikirannya bermanfaat bagi masyarakat banyak.

Pola yang dipakai oleh komunitas cyber dalam berkarya sebetulnya sangat sederhana
sekali, semua berbasis pada kepercayaan (trust) antar sesama anggota komunitas. Saling percaya (trust) tersebut tidak bisa terjadi dalam sekejap, semua terjadi secara perlahan-lahan melalui proses silaturahmi yang bisa memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Proses silaturahmi ini, kebetulan dilakukan secara sangat effisien & hemat biaya dan dilakukan setiap menit, setiap jam, setiap hari tanpa mengenal lelah

melalui berbagai tempat diskusi elektronik di Internet yang dikenal sebagai mailing list. Salah satu tempat diskusi di Internet yang menjadi favourite bagi sebagian besar netters di Indonesia adalah http://www.yahoogroups.com yang melayani puluhan ribu netters Indonesia yang bersilaturahmi satu sama lainnya setiap saat.

Saling berkenalan, saling percaya tersebut pada umumnya dilanjutkan dengan diskusi
fisik, komunikasi secara fisik melalui telepon maupun berbagai pertemuan fisik. Karena pada akhirnya pertemuan fisik tetap di perlukan untuk lebih meyakinkan lagi bahwa lawan bicara kita memang betul-betul bisa di percaya. Jangan kaget kalau frekuensi pertemuan fisik teman-teman netters ini ternyata jauh lebih tinggi daripada rekan-rekan yang tidak menggunakan Internet. Sebagai gambaran, pada saat ini teman-teman aktifis di Gerakan Nasional Telematika genetika@yahoogroups.com seperti Heru Nugroho, RM Roy Suryo, Mas Wigiantoro, Sumitro Roestam dll … kebetulan termasuk saya, hampir dipastikan banyak menghabiskan waktunya dalam perjalanan-perjalanan ke banyak teman di seluruh Indonesia. Banyak menghabiskan banyak pulsa telepon-nya untuk berbicara satu sama lain. Banyak meluangkan waktunya untuk bertemu, berdiskusi dengan banyak teman-teman yang selama ini kami kenal hanya di layar komputer. Justru semakin kita aktif di mailing list di Internet, akan semakin sering kita bepergian bertemu muka / temu darat dengan rekan-rekan netters lainnya. Karena proses pembangunan trust tersebut harus terjadi melalui pertemuan fisik tersebut. Memang gaya pertemuan kami biasanya sangat kekeluargaan, sangat sederhana seperti layaknya teman-teman lama yang saling bertemu.

Berbagai usaha & bisnis akan terjadi dengan sendiri-nya setelah terjadi saling percaya (trust). Saling mengetahui kekuatan dan kelemahan masing-masing. Saling mengisi untuk mencapai tujuan yang sama.

Mungkin seperti layaknya dunia seni, ada saat-saat kami berkarya secara sendiri-sendiri. Tapi ada saatnya bekerjasama untuk membangun sebuah karya yang besar. Semua
berbasis pada kepercayaan (trust) dan kebebasan dalam berfikir dan berkreasi. Itulah
gambaran umum eksekutif cyber yang ternyata juga merupakan seniman teknologi
informasi.

Baca selengkapnya.....

related link

 
Free Advertising

teman temanku

Powered by  MyPagerank.Net Add to Technorati Favorites